Istri Terpidana Mati Kasus Narkoba : Bagaimana Mungkin Orang Gila Di Vonis Mati

Istri Terpidana Mati Kasus Narkoba : Bagaimana Mungkin Orang Gila Di Vonis Mati

Baharinews.com, DUMAI- Ade Kurniawan terpidana hukum mati yang di vonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Dumai melakukan perlawanan. Ade melalui kuasa hukumnya, Dwi Miswanti dan istrinya Fitri segara mendaftar banding ke Pengadilan Tinggi di Pekanbaru atas vonis mati Ade Kurniawan atas kepemilikan narkoba seberat 50 Kilogram tersebut.

Kuasa hukum terdakwa Ade Kurniawan, Dwi Miswanti mengatakan pihaknya melakukan banding karena keputusan majlis Hakim sama sekali tidak mempertimbangkan fakta yang muncul dalam persidangan. “Bahkan bukti surat dari RSJ yang menyebutkan Ade Kurniawan pernah mengalami gangguan kejiwaan tidak di pertimbangkan sama sekali,” tuturnya. Kepada wartawan.

Ia menyebutkan jika kliennya memang mengalami gangguan kejiwaan bahkan berulang kali keluar masuk RSJ sejak 2015-2019. “Bahkan sebelum di tangkap, klien saya pernah kabur dari RSJ, ini yang sama sekali tidak di pertimbangkan,” sebutnya.

Ia mengakui jika gangguan kejiwaan yang dialami pasien kadang muncul kadang waras. “Bahkan saat di tahan di Rutan selama persidangan klien saya pernah mengamuk dan memukul tahanan lainnya,” tuturnya.

Selain, itu di persidangan juga dirinya tidak diberikan kesempatan untuk menghadirkan saksi yang bisa menjelaskan mengenai surat keterangan gangguan kejiwaan yang dialami pasiennya. “Tidak di bolehkan menghadirkan saksi, ini sangat kami sesalkan,” sebutnya.

Ia mengatakan di persidangan juga terkuak jika klien sama sekali tidak mengetahui adanya narkoba jenis sabu-sabu tersebut. “Kan ada empat pelaku lainnya yang berhasil kabur, sedangkan klien saya saat ditangkap tidak kabur, karena memang merasa tidak bersalah,” jelasnya.

Ia mengatakan akan secepatnya menyampaikan permohonan banding ke Pengadilan Tinggi Pekanbaru. “Secepat mungkin,” sebutnya.

Hal yang sama di sampaikan Sang Istri, Kepada Wartawan dirinya mempertanyakan keadilan, ia masih tidak menyangka suaminya yang mengalami gangguan kejiwaan di vonis hukuman mati. “Semua resume medis dari RSJ tampan udah saya tunjukkan. Suami saya ini belum smbuh, dia dirawat di RSJ kemudian kabur, mangkanya diluar kadang sehat kadang layaknya orang gila,” tuturnya

Ia mengatakan dirinya sudah berusaha meminta surat keterangan yang baru dari RSJ Tampan, akan tetapi RSJ tampan tidak mau mengeluarkan karena bersangkutan tengah menjalani proses hukum.”Saya juga tanyakan, kenapa empat temannya yang juga didalam mobil yang berhasil kabur, tidak ditangkap,” tuturnya.

Dikatakannya, jika memang suaminya bandar besar narkoba tidak mungkin kehidupannya serba kekurangan.
“Kami orang susah, kami tidak punya apa-apa, bahkab tempat tinggl saja numpang,” katanya.

Akibatnya kejadian ini, warga asal Bengkalis ini mengatakan anaknya jarang sekolah karna semenjak ayahnya ditangkap. “Anak kami sering sakit, saya sumpah demi Allah tidak punya uang untuk membayar apapun, saya hanya ingin keadilan,” tutupnya.

Majlis hakim Pengadilan Negeri (PN) Dumai kelas I A memvonis hukuman pidana mati Ade Kurniawan alias Ibung Bin Zainal Abidin yang terlibat dalam kepemilikan narkotika jenis sabu seberat 50 kg sabu.Sidang vonis hukuman mati itu di bacakan oleh Ketua Majlis Hakim Lilin Herlina, Rabu (5/2) sore.

Tidak hanya Lilin, ada dua hakim anggota lainnya, Renaldo Meiji H.Tobing, Aziz Muslim, SH yang turut memutuskan hukuman mati kepada terdakwa

Dalam sidang tersebut Ketua Majlis Hakim menjatuhkan hukuman pidana mati terdakwa atas nama Ade Kurniawan terbukti secara sah melanggar dalam pasal 114 ayat 2 undang- undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2009 tentang Narkorika. Hakim juga menyebutkan tidak ada hal meringankan dalam perbuatan terdakwa. Terdakwa diduga. Tuntutan itu sesuai dengan tuntutan yang di ajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Dumai.

Diketahui Ade Kurniawan merupakan terdakwa yang ditangkap Bareskrim Polri di Dumai pada 28 Juni 2019. Ade Kurniawan diamankan bersama barang bukti 50 Kg sabu. Namun empat orang rekannya lolos saat penyergapan dilakukan. (Tim)

Baca Juga